عين الرضا عن كل عيب كليلة كما ان عين السخط تبدى المساوى

Pandangan yang didasarkan pada kerelaan akan selalu tumpul melihat sebuah cacat sebaliknya pandangan yang didasarkan pada kebencian akan selalu menangkap kesalahan

ليس الفتى من يقول كان ابى ولكن الفتى من يقول هاأناذا

Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah ayahku tetapi pemuda yang sebenarnya adalah yang mengatakan inilah AKU..

Masa-Masa MTQ

Berpose Setelah Pembagian Hadiah pada Acara Musabaqah Tilawatil Qur'an ( MTQ )

Makan Bersama Teman-Teman Satu Angkatan

Nyammiii.... Teman SMA ane Di TMI RQ... Ajiiiib

Dedek Muhammad Haziq El_Fawwaz

Putra Pertama Dari Pasangan Kakanda H. Muhammad Ma'sum Lc. MM dan Yunda Meta Hapsari Lc yang Lahir Di Kota Cairo-Mesir

Senin, 10 Februari 2014

KH. Ahmad Dahlan - Pendiri Muhammadiyah

Muhammadiyah
Biografi KH. Ahmad Dahlan - Pendiri Muhammadiyah
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.
Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Dahlan masuk Boedi Oetomo - organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Kiai Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia.
Saran itu kemudian ditindaklanjuti Kiai Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330). Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi inilah beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Bagi Kiai Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui kacamata modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional. Beliau mengajarkan kitab suci Al Qur'an dengan terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca ataupun melagukan Qur'an semata, melainkan dapat memahami makna yang ada di dalamnya. Dengan demikian diharapkan akan membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan Qur’an itu sendiri. Menurut pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya hanya mempelajari Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya. Sehingga Islam hanya merupakan suatu dogma yang mati. Di bidang pendidikan, Kiai Dahlan lantas mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu, yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya lantaran mengutamakan menghafal dan tidak merespon ilmu pengetahuan umum. Maka Kiai Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau pun memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Kiai Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.
Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. Beliau semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur, penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak. Di samping itu, beliau juga memurnikan agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu,
Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.
Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau membentuk organisasi Aisyiyah yang khusus untuk kaum wanita. Pembentukan organisasi Aisyiyah, yang juga merupakan bagian dari Muhammadiyah ini, karena menyadari pentingnya peranan kaum wanita dalam hidup dan perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria. Sementara untuk pemuda, Kiai Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu - sekarang dikenal dengan nama Pramuka - dengan nama Hizbul Wathan disingkat H.W. Di sana para pemuda diajari baris-berbaris dengan genderang, memakai celana pendek, berdasi, dan bertopi. Hizbul Wathan ini juga mengenakan uniform atau pakaian seragam, mirip Pramuka sekarang.
Pembentukan Hizbul Wathan ini dimaksudkan sebagai tempat pendidikan para pemuda yang merupakan bunga harapan agama dan bangsa. Sebagai tempat persemaian kader-kader terpercaya, sekaligus menunjukkan bahwa Agama Islam itu tidaklah kolot melainkan progressif. Tidak ketinggalan zaman, namun sejalan dengan tuntutan keadaan dan kemajuan zaman.
Karena semua pembaruan yang diajarkan Kyai Dahlan ini agak menyimpang dari tradisi yang ada saat itu, maka segala gerak dan langkah yang dilakukannya dipandang aneh. Sang Kiai sering diteror seperti diancam bunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang.
Ketika mengadakan dakwah di Banyuwangi, beliau diancam akan dibunuh dan dituduh sebagai kiai palsu. Walaupun begitu, beliau tidak mundur. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu pembaruan ajaran agama (mushlih) pastilah menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko. Dengan penuh kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban yang diajarkannya.
Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh Kiai ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Kiai Dahlan ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota Muhammadiyah. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.
Melihat metoda pembaruan KH Ahmad Dahlan ini, beliaulah ulama Islam pertama atau mungkin satu-satunya ulama Islam di Indonesia yang melakukan pendidikan dan perbaikan kehidupan um’mat, tidak dengan pesantren dan tidak dengan kitab karangan, melainkan dengan organisasi. Sebab selama hidup, beliau diketahui tidak pernah mendirikan pondok pesantren seperti halnya ulama-ulama yang lain. Dan sepanjang pengetahuan, beliau juga konon belum pernah mengarang sesuatu kitab atau buku agama.
Muhammadiyah sebagai organisasi tempat beramal dan melaksanakan ide-ide pembaruan Kiai Dahlan ini sangat menarik perhatian para pengamat perkembangan Islam dunia ketika itu. Para sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat memfokuskan perhatian pada Muhammadiyah. Nama Kiai Haji Akhmad Dahlan pun semakin tersohor di dunia.
Dalam kancah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau sangatlah besar. Kiai Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya merupakan saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.
Kiai Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai yakni KH. Muhammad Shaleh di bidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa); dari KH. Raden Dahlan di bidang ilmu falak (astronomi); dari Kiai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock di bidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan di bidang ilmu pengobatan dan racun binatang.
Pada usia 66 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta. Atas jasa-jasa Kiai Haji Akhmad Dahlan maka negara menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember 1961.
Pesan, Nasehat dan Wasiat KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan adalah Pendiri Organisasi Muhammadiyah dan Hizbul Wathan. Selain tokoh masyarakat beliau adalah tokoh nasional. Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadyah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Pencerah. Tidak hanya menceritakan tentang sejarah kisah Ahmad Dahlan, film ini juga bercerita tentang perjuangan dan semangat patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu, dengan latar belakang suasana Kebangkitan Nasional. Berikut adalah beberapa Pesan, Nasehat dan Wasiat KH. Ahmad Dahlan :
Tulisan di Papan Tulis Dekat Tempat Tidur KH. Ahmad Dahlan
Tulisan ditulis dengan berbahasa arab yang artinya:
"Hai Dahlan, sungguh di depanmu pasti kau lihat perkara yang lebih besar dan mematikan, mungkin engkau selamat atau sebaliknya akan tewas.
Hai Dahlan, bayangkan kau sedang berada di dunia ini sedirian beserta Allah dan dimukamu ada kematian, pengadilan amal, surga, dan neraka. Coba kau piker, mana yang paling mendekati dirimu selain kematian. Mereka yang menyukai dunia bisa memperoleh dunia walaupun tanpa sekolah. Sementara yang sekolah dengan sungguh-sungguh karena mencintai akhirat ternyata tidak pernah naik kelas. Gambaran ini melukiskan orang-orang yang celaka di dunia dan akhirat sebagai akibat dari tidak bisa mengekang hawa-nafsunya. Apakah kau tidak bisa melihat orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu?"
KH. Ahmad Dahlan : Semangat Ber-Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan Berkata:
"Mengapa engkau begitu bersemangat saat mendirikan rumahmu agar cepat selesai, sedangkan gedung untuk keperluan persyarikatan Muhammadiyah tidak engkau perhatikan dan tidak segera diselesaikan?"
Nasehat KH. Ahmad Dahlan : Kewajiban Setiap Manusia
"Aku ini sudah tua, berusia lanjut, kekuatanku pun sudah sangat terbatas. Tapi, aku tetap memaksakan diri memenuhi kewajibanku beramal, bekerja, dan berjuang untuk menegakkan dan menjunjung tinggi perintah tuhan. Aku sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa memperbaiki urusan yang terlanjur salah dan disalahgunakan atau diselewengkan adalah merupakan kewajiban setiap manusia, terutama kewajiban umat Islam."
KH. Ahmad Dahlan : Muhammadiyah Untuk Semua
"Menjaga dan memelihara Muhammadiyah bukanlah suatu perkara yang mudah. Karena itu aku senantiasa berdoa setiap saat hingga saat-saat terakhir aku akan menghadap kepada Illahi Rabbi. Aku juga berdoa berkat dan keridlaan serta limpahan rahmat karunia Illahi agar Muhammadiyah tetap maju dan bisa memberikan manfaat bagi seluruh ummat manusia sepanjang sejarah dari zaman ke zaman."
KH. Ahmad Dahlan : Teruslah Menuntut Ilmu Pengetahuan & Kembali Kepada Muhammadiyah
"Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu."
KH. Ahmad Dahlan : Kutitipkan Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan berkata:
"Mengingat keadaan tubuhku kiranya aku tidak lama lagi akan meninggalkan anak-anakku semua sedangkan aku tidak memiliki harta benda yang bisa kutinggalkan kepadamu. Aku hanya memiliki Muhammadiyah yang akan kuwariskan kepadamu sekalian."
"Karena itu, aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu sekalian dengan penuh harapan agar engkau sekalian mau memelihara dan menjaga Muhammadiyah itu dengan sepenuh hati agar Muhammadiyah bisa terus berkembang selamanya."
KH. Ahmad Dahlan : Kuberi Nama Muhammadiyah
"Usaha berjuang dan beramal tersebut aku lakukan dengan mendirikan persyarikatan yang aku beri nama Muhammadiyah. Dengan itu aku berharap kepada seluruh umat yang berjiwa Islam akan selalu tetap mencintai junjungan Nabi Muhammad dengan mengamalkan segala tuntunan dan perintahnya."
Khittah KH. Ahmad Dahlan
Tidak Menduakan Muhammadiyah dengan organisasi lain;
tidak dendam, tidak marah, dan tidak sakit hati jika dicela dan dikritik;
tidak sombang dan tidak berbesar hati jika menerima pujian;
tidak jubria (ujub, kikir, dan ria);
Mengorbankan harta benda, pikiran, dan tenaga dengan hati ikhlas dan murni;
bersungguh hati terhadap pendirian.
Kemunduran Ummat Menurut KH. Ahmad Dahlan
Menurut pendapat KH. Ahmad Dahlan, kemunduran umat Islam karena sebagian besar umat Islam terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam. Selain itu disebabkan pula oleh kemerosotan akhlak sehingga penuh ketakutan seperti kambing dan tidak lagi memiliki keberanian seperti harimau. KH. Ahmad Dahlan berkata:
"Karena itu, aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang merupakan tugas berat dan sulit."
Lalu beliau melanjutkan:
"Namun demikian, jika kita terus bekerta dengan rajin disertai kesungguhan, kemauan keras, dan kesadaran tugas yang tinggi, maka insya Allah tuhan akan memberi jalan dan pertolongan-Nya akan segera tiba."
KH. Ahmad Dahlan : Jangan Tergesa-gesa Menyanggupi Suatu Tugas
KH. Ahmad Dahlan berkata :
"Hendaklah setiap warga Muhammadiyah jangan tergesa-gesa menyanggupi suatu tugas yang ditetapkan oleh sidang persyarikatan. Telitilah terlebih dahulu keputusan siding yang menetapkan engkau untuk melakukan suatu tugas apakah pemenuhan tugas itu bersamaan dengan tugas yang telah engkau sanggupi sebelumnya. Jika itu terjadi, hendaklah kau permudah memenuhi tugas dalam waktu yang tidak bersamaan dengan tugas lainnya, agar engkau tidak mudah mempermainkan keputusan sidang dengan hanya mengirimkan surat atau memberi tahu ketika mendapati waktu pemenuhan tugas itu bersamaan dengan tugas lainnya yang telah engkau snggupi sebelumnya."
KH. Ahmad Dahlan : Jangan Gampang Memperebutkan Tanah
KH. Ahmad Dahlan Berkata:
"Hendaklah engkau tidak gampang melibatkan diri dalam perebutan tanah sehingga bertengkar dan berselisih, apalagi bertengkar dan berselisih di muka pengadilan. Jika itu engkau lakukan, maka Allah akan menjauhkanmu memperoleh rejeki dari tuhan."
KH. Ahmad Dahlan : Dokter Untuk Kaum Perempuan
Suatu ketika, KH. Ahmad Dahlan bertanya kepada anak-anak muda perempuan Muhammadiyah, "Apakah kamu tidak malu jika auratmu dilihat kaum lelaki?" Anak-anak muda perempuan itu serentak menjawab bahwa mereka akan malu sekali jika hal itu terjadi. Kiai lalu berkata: "jika kau malu, mengapa jika kau sakit lalu pergi ke dokter laki-laki, apalagi ketika hendak melahirkan anak. Jika kau memang benar-benar malu, hendaknya kau terus belajar dan belajar dan jadilah dokter sehingga akan ada dokter perempuan untuk kaum perempuan!"
KH. Ahmad Dahlan : Anak Muda Muhammadiyah akan Tersebar Ke Seluruh Dunia
KH. Ahmad Dahlan Berkata:
"Di masa yang akan datang, anak-anak warga Muhammadiyah tidak hanya akan tersebar di seantero tanah air, tapi akan tersebar ke seluruh dunia. Penyebaran anak-anak muda Muhammadiyah tersebut juga bukan semata-mata karena tugas keilmuan, melainkan juga akibat hubungan perkawinan."
KH. Ahmad Dahlan : Alasan Tidak Memenuhi Tugas
KH. Ahmad Dahlan berkata:
"Jika engkau meminta izin tidak melakukan suatu pekerjaan yang telah ditetapkan oleh suatu keputusan sidang persyarikatan seperti untuk bertabligh, janganlah engkau meminta izin kepadaku, tapi memintalah izin kepada Tuhan dengan mengemukakan alasan-alasan. Beranikah engkau mempertanggungjawabkan tindakanmu itu kepada-Nya?"
"Jika engkau meminta izin tidak memenuhi tugas tersebut karena alasan tidak mampu, maka beruntunglah engkau! Aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana memenuhi tugas tersebut. Tapi, jika engkau meminta izin tidak memenuhi tugas tersebut hanya karena sekedar enggan, maka tiadalah orang yang bisa mengatasi seseorang yang memang tidak mau memenuhi tugas. Janganlah persoalan rumah tangga dijadikan halangan memenuhi tugas kemasyarakatan!"
Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

K.H HASYIM ASY'ARI - Nahdlatul 'Ulama



Nahdlatul 'Ulama



K. H HASIM ASY'ARI DALAM MASA PERJUANGAN
A.    Masa Kanak-Kanak Sampai Dewasa.
Pada tanggal 24 Dzulqodah 1287 hijriyah (14 Februari 1871)[1], lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan Asy’ari dan Halimah disebuah desa Gedang, Jombang Jawa Timur, bayi tersebut  kemudian diberi nama Hasyim Asy’ari.  Menurut silsilah ia dipercaya masih merupakan keturunan dari bangsawan-bangsawan terkemuka yang pernah berkuasa ditanah Jawa ini. Semenjak kelahiranya sampai ia berumur 5 tahu ia tinggal ditempat kakeknya dan sambil belajar ilmu agama di pondok pesantren milik kakeknya  yaitu pondok pesantern Gedang. Beliau dididik sejak kecil mengenai ilmu-ilmu agama yan kelak menjadi bekal menjalani kehidupanya. Setelah ia berumur 6 tahun K.H Asy’ari kemudian pindah mengikuti orang tuanya kesebuah desa yaitu desa Keras. Di desa tersebut kemudian orang tuanya melekukan dakwah dan mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai media dalam menyebarkan agama Islam. Disinalah K.H Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya menuntut ilmu-ilmu agama melalui bimbingan orang tuanya sampai ia beumur lima belas tahun. Tidak berbeda dengan orang tuanya ia dikemudian hari juga mendirikan sebuah pesantren, hal tersebut terjadi mungkin karena sikap yang di tularkan dari orang tuanya yang juga mendirikan sebuah pesantren. Kehidupan beliau semenjak ia lahir sampai usia remaja berada dalam lingkungan pesantren, hal inilah yang mempengaruhi dan membentuk corak watak dan sikapnya dimasa depanya. Setelah selama 10 tahun beliau belajar ilmu agama dengan bimbingan orang tuanya pada usianya mencapai lima belas tahun beliau meneruskan studi islamnya ke berbagai pondok pesantren ternama di tanah Jawa timur yang kianya mempunyai keahlian-keahlian didalam bidang ilmu agama tertentu. Pondok pesantren yang pertama ia kunjungi pada saat itu adalah pondok pesantren Wonokoyo di daerah Jombang. Setelah ia selesai menguasai ilmu yang diajarkannya ia kemudian melajutkan perjalanannya dan mendatangi pondok pesantren Probolinggo. Selesai di Probolinggo beliau melanjutkan kembali ke pondo pesantren Terenggelis. Dan masih banyak pondik pesantren lainya di Jawa Timur yang di datangi untuk menambah ilmunya.[2] Walaupun beliau telah belajar dan berhasil menguasai ilmu-ilmu agama dibeberapa pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur namun hasrat beliau untuk tetap menuntut dan belajar ilmu keagamaan Islam masih terus menggebu-gebu. Akhirnya memutuskan untuk pergi dan menggembara ke luar Jawa untuk memperdalam ilmu pengetahuan agamanya, tempat yang di tuju ialah sebuah Pondok Pesantren di daerah Madura. Namun setelah selesai belajar di Madura ternyata ia merasa bahwa ilmu yang di dapatnya belumlah cukup untuk bekal kehidupanya sehingga ia melanjutkan studinya di Sidoarjo, yaitu seuah pondok pesantren yang benama Siwalan Panji. Di dalam pondok tersebut ia di bimbing oleh seorang kiai yaitu kiai Yakub. Disana beliau dalam menuntut ilmu agamanya sangat cepat diterimanya dan beliau jiuga murid yang tergolong cerdas dan pintar. Sikap dan perilakunya yang sopan santun ternyata mengundang perhatian tersendiri dari kiai Yakub sehingga suatu saat ia di panggil oleh kiai yakub untuk dianggap bicara mengenai pikiran yang ada dibenak kiai Yakub tersebut. Ternyata perhatian kiai tersebut yang selama ini ada dalam pikiranya yaitu menjodohkan K.H hasyim Asy’ari dengan putrinya yang bernama Khadijah. Tawaran tersebut sangat membingungkan K.H Hasyim Asy’ari, di satu sisi ia mempunyai cita-cita dan harapan untuk bisa menuntut ilmu dan memperdalam lebih lanjut karena ia merasa ilmu yang selama ini ia peroleh belumlah cukup hanya sampai di sini saja, ia menginginkan agar ilmu yang di dapatnya lebih dari sekedar itu. Namun dilain pihak beliau tidak ingin mengecewakan guru yang selama ini membimbingnya. Sebenarnya apa yang di ragukan dan difikirkan oleh K.H Hasyim Asy’ari telah diketahui oleh Kiai Yakub dan akhirnya Kiai Yakub pun memberikan nasihat dan wejangan dan mengatakan bahwa mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan mencar ilmu itu tidak ada batasanya seperti luasnya lautan, ia juga mengatakan menikah bukanlah halangan bagi seseorang untuk mencari ilmu selama niat yang ada pada orang tersebut terus menggebu-gebu. Akhirnya untuk memutuskan hal tersebut ia meminta pertimbangan kepada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya pun menyetujui hal tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan menikah dengan putri Kiai Yakub, dan ketika itu K.H berusia 21 tahun.
Setelah ia menikah dan menetap ditempat mertuanya kemudian ia dan keluarganya memenuhi rukun Islam yang terakhir yaitu melaksanakan ibadah haji ke Makkah, sekaligus ia menetap disana untuk memperdalam ilmunya dan sampai ia khirnya istrinya melahirkan, namun nasib baik belum berada dipihaknya, K.H Hasyim Asy’ari mendapat ujian dari dengan di ambil nyawa anak dan istrinya. Disana beliau belajar dari berbagai kiai-kiai besar dan hebat yang ada di Makkah. Kebetulan pada saat beliau berada di Makkah disana sedang terjadi gerakan pan Islamisme yang di pelopori oleh Jalaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh. Hal tersebut sangatlah berpengaruh terhadap pemikiran K.H Hasyim Asr’ari ketika pulang ke tanah air.
B. Peranan K.H Hasyim Asy’ari Dalam Nahdlatul Ulama Terhadap Perjuangan Melawan Kolonialisme.
Berbicara masalah kelompok Jam’iyah islam Nahdlatul Ulama tidak akan pernah bisa lepas dari peran dan sosok K.H Hasyim Asy’ari. K.H Hasyim Asy’ari sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan organisasi ini karena pemikiran beliaulah organisasi ini bekembang pesat hingga tersebar di hampir seluruh Jawa. Beliau adalah sosok yang sangat karismatik sehingga tak heran apabila para kiai pengasuh pondok pesantren didaerah Jawa Timur  dan Jawa Tengah waktu itu sangatlah menghormati diriya, bahkan orang yang pernah menjadi guru dan pembimbingnya semasa ia berada di pondok pesantren, sekarang ia mengganggap bekas muridnya itu menjadi gurunya. Jam’iyah (organisasi) Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang lahir di tengah-tengah kemajuan dan kemegahan bangsa barat yang sedang menjajah bangsa kita ini. Untuk mempertahankan organisasi ini  bukanlah suatu usaha yang mudah  pada masa itu, karena pemerintah kolonial pada masa itu tidak ingin ada kekuatan dalam masyarakat pribumi karena di anggap akan membahyakan kekuasaanya di Nusantara ini. Walaupun beliau menjadi pemimpin yang besar dalam organisasi tersebut dan organisasinya berkembang secara pesat namun ia tidak pernah membenci jam’iyah-jam’iyah lainya yang ada, justru beliau menginginkan persatuan yang harus galakan dan ditegakan sesama umat muslim. Karena tanpa persatuan tersebut umat muslim yang jumlahnya banyak pun akan mudah didipecah belah.
Sehubungan dengan diterapkanya kebijakan plitik Etis oleh pememrintah Belanda maka dimulailah babak baru dimana rakyat dan tanah air ini mengalami pengeksploitasian secara besar-besaran. Banyak masyarakat pribumi yang menjadi korban dari kebijakan tersebut sehingga melahirkan perasaan-perasaan benci yang teramat mendalam terhadap pemerintah. Kesengsaraan melanda masyarakat pribumi yang menyebabkan menimbulkan perubahan sosial dan pemiskinan rakyat khususnya yang berada di daerah pedesaan.  Tatanan kebijakan pemerintah terhadap masyarakat pribumi yang menyengsarakan ini mengakibatkan keinginan untuk diadakan tatanan pemeritahan yang baru yang bisa membawa mereka kearah yang lebih baik. Untuk mewujudkan impianya tersebut masyarakat kemudian melakukan aksinya dengan melakukan protes terhadap pemerintah. Melihat hal tersebut K.H Hasyim Asy’ari berusaha untuk memahami dan melakukan dakwahnya dengan cara-cara yang tepat. Pondok pesantren di Jawa waktu itu sangatlah menutup pengaruh dari luar khususnya pengaruh dari bangsa kolonial yang di anggap merusak moral-moral Islam. Segala bentuk pengaruh yang berbau barat pasti akan ditolaknya sehingga masyarakat pesantren menjadi kolot dan tertinggal. Hal ini terjadi secara terus-menerus sampai datang pemikiran modern yang sadar akan ketertinggalannya.
Perjuangan K.H Hasyim Asy’ari dilakukan dengan mengobarkan semangat pembaharuan pada tahun 1926[3] terhadap masyarakat pondok pesantren yang sangat masih menutup diri dari pengaruh luar. Selain ilmu-ilmu agama yang di ajarkan didalam pondok ia juga memperbolehkan ilmu-ilmu umum di ajarkan dengan tujuan agar mereka tidak tertinggal dengan bangsa Barat. Awalnya pembaharuan ini tidak disetujui oleh golongan kiai kiai yang sudah tua namun setelah dijelaskan oleh K.H Hasyim Asy’ari dengan alasan untuk menghancurkan mereka kita harus mengetahui dahulu lawan kita, akhirnya pembaharuan tersebut dapat diterima oleh golongan Kiai-kiai tua. Walaupunbeliau membebolehkan pengaruh arat masuk namun beliau tetap meyaring setiap sesuatu hal yang masuk. Pemerintah pada saat itu menyadari bahwa kekuatan yang ada dalam masyarakat Islam tersebut dapat membahayakan dirinya, sehingga pemerintah memutuskan untuk mempengaruhi K.H Hasyim Asy’ati dengan iming-iming gaji yang besar dan tanda kehormatan, namun semua itu di tolah oleh beliau dengan dalih bahwa beliau tidak mau mengurangi rasa iklasnya dalam pengabdian terhadap agama Islam.
KH Hasyim Asy’ari, Sang Penjaga Islam Tradisional
Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie, bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.
Keturunan Raja Pajang
KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Jaket Motor Anti Angin
Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
www.JaketRespiro.com
19 Video Debat Islam-Kristen
Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
digitalhuda.com/?f1
Peluang Usaha
Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
www.rumahhajidanumrah.com
Baju Hamil dan Menyusui
Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis ibu, Halimah, Hasyim masih terhitung keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir alias Sultan Pajang, raja Pajang. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Berikut silsilah lengkapnya. Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, KH. Asy’ari (Jombang), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Pendidikan
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kyai Cholil.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Mendirikan Pesantren Tebuireng
Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal.
Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.
Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.
Kesan Akhlak dan Kecerdasan
Pernah terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari Madura ini populer dipanggil.
Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”
Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.
Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.
Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga Kyai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.
Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.
Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kyai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian ummat Islam.
Maka tak heran bila pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kyai Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kyai Hasyim.
Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.
Perjuangan dan Penjajahan
Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.
Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu.
Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda.
Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan.
Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum.
Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an.
Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim.
Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang.
Kyai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya. Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan.
Setelah penahanan Hadratus Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng vakum total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.
Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha dari Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.
Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut. Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947.
Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.
Mendirikan Benteng Islam Tradisional
Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syaikh Mahfudh At Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syaikh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru.
Yang perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Dan sebagaimana diketahui, buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Sebagaimana telah dikupas Deliar Noer, ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja. Ide reformasi Abduh itu ialah pertama mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam. Kedua, reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas; dan ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Syaikh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab. Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. Dalam hal tarekat, Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Dalam perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren (sering disebut kelompok tradisional), dengan yang tidak bermazhab (diwakili Muhammadiyah dan Persis, sering disebut kelompok modernis) itu memang kerap tidak terelakkan. Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah.
Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz. Komite yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kyai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama.
Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada 1937 ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Penjajahan panjang yang mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan Nasional. Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid hadratus Syaikh. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik.
Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Salafi-Wahabi sebagai madzhab resmi Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah.
Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak dengan alasan itu adalah pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh semangat untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan peradaban, maka Kyai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya, membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya. Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Kisah Pendirian Nahdhatul Ulama’
Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah.
Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan.
Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.
Ketika Kyai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata.
Waktu terus berjalan, akan tetapi pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim masih menunggu kemantapan hati.
Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh Kyai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, ”kalung ini yang menaruh adalah Kyai, maka yang boleh melepasnya juga harus Kyai”. Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru.
”Kyai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad.
Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah.
Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kyai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu.
Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kyai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.
Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.
Semangat Abduh juga mempengaruhi masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Mekkah. Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912).
Kyai Hasyim pada prinsipnya menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang tegas dari Kyai Hasyim ini memperoleh dukungan para Kyai di seluruh tanah Jawa dan Madura. Kyai Hasyim yang saat itu menjadi ”kiblat” para Kyai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini.
Pada saat pendirian organisasi pergerakan kebangsaan membentuk Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai Hasyim dengan putranya Kyai Wahid Hasyim, diangkat sebagai pimpinannya (periode tahun 1937-1942).

Minggu, 09 Februari 2014

Lagi-Lagi CINTA



Cinta Deui’ Cinta Deui’...???? Liyeur Euy.....!!!

Setiap ane bka FB, pasti ja ada persoalan CINTA, katanya GALAU karena dia dikhianati org yang dicintainya... memang sih, qta ga bsa menghindar dari kata "CINTA", karena memang sudah dinash dalam Al-Qur'an...
للناس حبّ الشّهوات من النّساء زيّن …
Tapi terkadang cinta itu selalu membawa kepada perpecahan, permusuhan, benci, dll... karena sebenarnya yang berperan aktif dlam cnta mreka ialah nafsu... sehingga tanpa sadar mereka melakukan apa yang dilarang oleh syari’at agama "na'udzu Billaahi Mindzaalik".... katanya atas dasar CINTA....??? itu semua kan dosa tho.... sekarang ayuk qt bareng2 berusaha, tuk meremove cnta2 model itu... cintailah kekasihmu dengan sebaik2nya, jangan ada lagi kata2 galau, sakit, patah hati, dll... buang jauh2 yuk ego kita, agar semua berjalan seperti yang kita idam2kan.....
Mari kita gunakan rumus 3M:
§  Mulai dari diri sendiri.
§  Mulai dari yang mudah2 (kecil2).
§  Mulai dari sekarang.
Orang yang sudah diselimuti rasa cinta, akan menimbulkan dampak positif dan negatif... karena, ketika orang sudah cinta, ia selalu ingin bertemu dengan yang dicintainya, selalu terbayang wajahnya, ketika disebut namanya hatinya berdetak kencang, ga mau cpt2 pisah ketika sdah bersamanya, walau dia sudah disakiti, tapi tetap saja bisa tenang, dipukul, di cubit, dll katanya ga skt, jstru mnta di tambah... pdhal dlam hatinya sktnya bkan main...heheeeee...
"Positifnya", bisa bangkitin semangat, belajar, ibadah, dan kegiatan2 lainya. Katanya siih....:-)
Bayangkan, apabila cinta itu kita implementasikan dalam cinta kita kepada yang mnciptakan kita (Allah ‘AzzaWaJalla), dan kita akan merasakan seperti rasa cinta kita pada pasangan kita, “selalu rindu akan berjumpa dgnNYA, ketika mendengar namaNYA hatinya bergetar, Tidak ingin buru2 pisah denganNYA..”  Coba rasa cinta itu mampu kita terapkan untuk cinta kepada Allah, yang selalu mengertikan kita, tidak pernah menyakiti orang yang mencintaiNYA, selalu ada bersama org yg mncintaiNYA, dll... pasti hidup ini akan sangat berarti bukan...??? tidak akan ada rasa sakit hati, galau, cemas, dikhianati dan lain sebagainya...
Dan "negatifnya", ketika cintanya hanya kepada seseorang (manusia/lawan jenis. reg), sampai melalaikan ia mengingat dzat yang menciptakan cinta itu sendiri (Allah ‘Azza Wajalla).... berbuat seperti layaknya sepasang suami istri, padahal mereka belum menikah, Dan Lain Sebagainya... ketika ditanya jawabnya "karena cinta"... Na'uudzu Billaahi Mindzaalik"...
Dah ... sekarang yuk qt jalani apa yg kita alami dengan Ikhtiar, Do'a, Tawakkal, Qana'ah (ikhlas dan sabar), kemarin adalah sejarah, pengalaman, dan guru yang terbaik untuk kita... hari ini adalah kenyataan yang kita alami, dan akan lbih baik bila hari ini kita jalani dengan mnjadikan hari kemarin sebagai guru kita, sebagai tolak ukur tuk Masa depan yang lebih baik... agar kita mampu menjadi lebih baik lagi dalam bertindak, bersifat dan berkata, dan esok adalah harapan, kalau sudah begitu harapan kita semoga kedepan menjadi lebih cerah & baik lagi...;-)
Setiap orang pasti menginginkan mendapatkan pasangan yang shalih/hah lahir bathin... tapi terkadang terbesit pertanyaan dihati, masih adakah wanita/pria dizaman ini yang seperti itu.....???
Mngkin smua orang berfikiran sama, ingat... mngkin lhooo.....,tapi pernahkah kita berfikir “Bagaimna agar kita bisa menjadi orang yang shalih/hah...???” naaah.., kalau kita selalu berfikir demikian (Bagaimna agar kita bisa menjadi orang yang shalih/hah...???), maka insya Allah akan tmbuh baaanyak org2 yang shalih/hah di zaman ini... jangan berfikir “Masih Adakah Wanita/pria Yang Shaleh/Shalihah Dizaman Modern Ini....?” kalau semua selalu berfikir seperti itu, tanpa mau berfikir bagaimana untuk menjadi orang yang shalih/hah... kemungkinan akan terjadi kesaaangat langkaan orang2 yang shalih/hah... karena apa?? mereka hanya berpedoman "zaman sekarang tu udah jaarang orang seperti itu", yang menyebabkan mereka enggan untuk berfikir dan berupaya tuk menjadi orang yang shalih/hah...
Mulai sak niki, jo ngono2 meneh yo.... pasti qto sdoyo mpun kesel to,,...??? jo wedi kehabisan pasangan, terlebih cowo... katanya dizaman akhir nanti perbandingan antara cwe n cwo itu 1 banding 10... dan ane rasa sekarang mulai ketoro to caak...??? nyantae bae laaah.... masa lalu qta, jngan dhilangkan, tapi jadikan ia sebagai bahan pertimbangan qta, guru qta.... “Experience is The Best Teacher”... ngoten to...??? leres mboten...???
            Semoga qta bisa mendapatkan pasangan yang shalih/hah, seiman dan seagama, mau diajak berjuang dijalan Allah (menegakkan panji2 islam), baik untuk kita, keluarga kita, agama, sehingga kita mampu menciptakan kader2 penerus yang berjiwa islami haqiqiy..... Aamiiin...
Semoga kata-kata yang sedikit ini bisa bermanfa’at bagi para pembaca, mohon m’f apabila ada salah dalam redaksi yang ane gunakan... semoga kedepan kita bisa menjadi yang terbaik dari yang baik.... Aamiiin yaa Allah...
“Jangan Berfikir Bahwa Kita Yang Terbaik....”
“ Tapi Berfikirlah Tuk Menjadi Yang Terbaik....”
جَعْفَرْ صِدِّيْق بن شَمْسُ الدِّيْن بن مُحَمَّدْ طَلْحَةْ

Kata Indah Tentang Cinta



Cinta......

* Cinta bukanlah “itu salah kamu” tapi “maafin aku” bukan “kamu gimana sih?” tapi “aku mengerti” juga bukan “seandainya kamu…” tapi “aku bersyukur kamu…”
Yang paling utama adalah bukan “aku cinta kamu, karena…” tapi “aku cinta kamu, meskipun…”
* Ukuran sebuah kecocokan bukanlah banyaknya waktu yang dilalui bersama, tapi kasih sayang terhadap satu sama lain.
* Patah hati akan bertahan selama kamu tetap mempertahankannya dan menyakitkan selama kamu membiarkannya terasa sakit
Yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana kamu bertahan dari patah hati, tapi bagaimana mengambil hikmah darinya
* Bagaimana memahami cinta:
Boleh jatuh cinta tapi jangan sampai tersandung,
Harus konsisten tapi jangan memaksa,
Bisa berbagi tapi harus adil,
Bisa memahami bukannya menuntut,
Dan harus bisa patah hati tapi jangan sakit hati.
* Cinta sejati tak bisa dicari dimana dia ada dan tiada
Karena cinta tak dapat dimengerti…
Semakin disembunyikan jadi semakin kelihatan
Semakin ditahan jadi semakin berkembang.
* Jangan pernah bilang “aku cinta kamu” kalau kamu tak pernah merasa begitu
Jangan pernah bicara tentang perasaan kalau hal itu tak pernah ada
Jangan sentuh hatinya kalau niatmu mematahkannya
Hal paling kejam yang bisa dilakukan laki-laki adalah membuat perempuan jatuh cinta padahal dia tak berniat membalasnya.
* Memang sakit melihat orang yg kamu sayang senang bersama orang lain
Tapi lebih menyakitkan kalau tahu orang yang kamu sayang lebih tidak senang bersama kamu.
* Sakit rasanya kalau ditolak,
Lebih sakit lagi kalau putus cinta,
Tapi yang paling sakit kalau orang yg kamu cintai tidak pernah tahu perasaan kamu terhadapnya.
* Hal yang menyedihkan tentang cinta,
Jikalau kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya tak dapat bersatu…
Dan kamu harus bisa merelakannya.
* Cinta itu seperti kupu-kupu yang cantik
Semakin dikejar dia semakin menghindar
Tapi kalau kamu membiarkannya terbang, dia akan menghampirimu disaat yang tidak kamu duga
Cinta bisa membuat kamu bahagia, tapi juga bisa menyakitkan.
Tapi cinta menjadi istimewa saat kamu memberikannya kepada orang yang pantas menerimanya.
Jadi sabar aja…dan pilih yang terbaik..
SAlAm SukSes....
-a' Uje-

“Kisah Sahabat Humaidi”


 
            Sahabat Humaidi adalah orang yang setia dan selalu bersama Nabi Muhammad saw. Pada suatu hari Rasul saw mengajaknya untuk berperang “Jihad fii sabiilillaah”. Tanpa berfikir panjang,sahabat pun menyetujui ajakan Rasul saw.
Kemudia Nabi berpesan kepada sahabat, agar ia memberitahukan kepada sang istri tercinta untuk tidak keluar rumah dan tidak diperbolehkan menerima tamu laki-laki.
Pesan itupun disampaikannya kepada sang istri.
Keesokan harinya, sahabat mulai melangkah meninggalkan rumah dan istri tercintanya, memenuhi ajakan baginda Rasul Muhammad saw. Seminggu setelah kepergiannya, tiba-tiba ada yang mendatangi rumah sahabat.
Tamu   : Assalamu’alaikum…
Istri      : (dari dalam rumah) “Wa’alaikumsalam, ma’af tuan, hamba mendapat amanat dari suami hamba untuk tidak menerima tamu laki-laki. Ada perlu apakah tuan datang kemari??”
Tamu   : hamba diutus oleh ibumu untuk menyampaikan sebuah berita duka, bahwa ayahmu telah meninggal dunia.. Kemudian ibumu meminta agar engkau bersama suamimu dapat hadir ditengah-tengah mereka..
Istri      : (sambil meneteskan air mata, sang istri pun berkata) “Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun”…:_(
            Suami hamba sedang pergi berperang bersama Rasulullah, dan beliau berpesan kepada hamba, untuk tidak pergi keluar rumah dan dilarang menerima tamu laki-laki selama kepergiannya.., tolong sampaikan salam ma’afku beserta suamiku, karma kami tidak dapat hadir ditengah-tengah mereka..;_(

Kemudian disampaikanlah salam tersebut kepada sang ibu.. sambil menangis sang ibupun memakluminya..
Lebih dari dua minggu, sang suamipun belum kunjung datang.. setiap hari sang istri berdiri dipekarangan rumah, guna menunggu kedatangan sang suami tercinta. Dan disiapkanya pula air 2 ember dan 3 buah pecut. Diletakkanya 1 ember air dan pecut di pekarangan dan di depan pintu masuk, dan lainya diletakkan di meja makan.
            Setelah satu bulan lebih, sang istri pun melihat kedatangan suami tercinta. Sesampainya dipekarangan rumah, sang istri langsung merangkul, mencium sang suami, kemudian mencuci sepatu yang dikenakanya dengan air yang telah disediakanya. Setelah tiba didepan pintu, dilepaskanya sepatu yang dikenakan sang suami kemudian sang istri pun menhcuci kakinya. Kemudian sang istri pun menyiapkan makanan di meja makan, sebelum makan sang suamipun bertanya kepada sang istri..
Suami  : dinda…?
Istri      : dalem kanda… (bhsa sak iki)
Suami  : apakah dinda memakai wangi-wangian?
Istri      : tidak kanda, sedikitpun hamba tidak memakai wangi-wangian kanda..

Kemudian sang istri pun menyuapi suaminya.. selesai makan,sang istri pun berkata:
Istri      : kanda, dahulu seminggu setelah kepergian kanda ada seorang laki-laki datang menghampiri  rumah kita, ia berkata bahwa dia diutus oleh ibu hmba untuk mnyampaikan sebuah berita, bahwa ayah hamba meninggal dunia. Tapi hamba tidak keluar tuk menemuinya, dan hamba hanya manitip salam untuk ibu, karma hamba dank anda tidak dapat hadir di tengah-tengah mereka. Karma hamba selalu ingat akan pesan kanda.
Suami  : terharu seraya mengucap: “Innaa Lillaahi wa innaa Ilaihi Raaji’uun”. Wahai istriku, ayahmu oleh Allah langsung dimasukkan kedalam syurga karma engkau sangat patuh kepada sang suami. Itulah yang menyebabkan ruangan ini wangi laksana minyak kasturi.. kemudian sang suami pun kembali bertanya, “dinda… dari awal ketika dinda menemuiku dipekarangan rumah, kanda melihat ada pecut, begitupun di depan pintu masuk, bahkan sampai di meja makanpun kanda msih mendapatinya, apa maksud dari semua ini dinda..??
Istri      : semua itu sengaja hamba sediakan, apabila dinda memiliki kesalahan, kurang dalam menjamu kanda, dll. Maka pecutlah hamba dengan pecut-pecut tersebut, agar hamba tidak dipecut dineraka kelak..
Sahabat Humaidi pun langsung memeluk dan mencium sang istri dgn penuh kasih saying, karma sangat terharu dan bangga akan akhlaqul kariimah yang dimiliki sang istri… “Subhaanallaah”
Semoga cerita singkat ini bisa bermanfa’at dan dapat menjadi ibrah buat kita semua, khususnya para istri-istri shalihah…
Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah Wanita Shalihah”,,…. selain itu wanita shalihah juga idaman setiap kaum adam pastinya…

Wanita Shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia..
Memandangnya, menyejukkan Qalbu...
Mendengarkan suaranya Menghanyutkan batin...
Ditinggalkannya Menambah keyakinan...
Wanita shalihah adalah Bidadari syurga yang turun ke dunia...
Wanita Shalihah, penebar Rahmat bagi keluarga dunia hingga Akhirat....